Tempatnya Sharing Ilmu Kesehatan Terutama Di Bidang Farmasi

RESEP : Pengenalan, Bagian dan Salinan Resep/Copyresep

RESEP : Pengenalan, Bagian dan Salinan Resep/Copyresep
Contoh Resep Dokter (slideshare)
Pada saat kita berobat ke dokter atau ke fasilitas kesehatan, kita selalu mendapatkan selembaran kertas yang berisi tulisan dokter. Tulisan dokter ini kadang tidak bisa terbaca oleh orang awam. Selembaran itu berisi informasi obat yang akan digunakan oleh pasien. Selembaran itu disebut resep.

Resep merupakan permintaan tertulisa dari seorang dokter, bisa dokter umum, dokter hewan dan dokter gigi yang tentunya sudah memiliki izin praktek. Permintaan tersebut ditujukan kepada apoteker selaku pelayan kefarmasian untuk menyediakan/membuat dan menyerahkan resep tersebut kepada pasien sesuai dengan yang tertulis di resep. Di desa-desa mungkin masih banyak bidan/perawat yang membuat/menuliskan resep ke pasiennya. Hal ini sebenarnya bertentangan dengan peraturan bahwa yang berhak menuliskan resep adalah dokter seperti penjelasan diatas.

Di dalam sebuah resep ada bebrapa hal yang harus diketahui oleh seorang apoteker. Bagian-bagian tersebut masing-masing berbeda fungsi dan tempatnya. Dokter selaku prescriber/menulis resep harus mengetahui beberapa hal yang harus diperhatikan. Berikut penjelasannya.
1. Identitas dokter praktek, berisi nama, alamat, nomor izin praktek dari dokter (umum, hewan, gigi) 
2. Inscription, bagian ini berisi tanggal penulisan resep
3. Invocatio, bagian ini berisi tanda R/ pada bagian kiri sebelum penulisan resep (nama dan jumlah obat)
4. Signature, bagian ini berisi aturan pemakaian penggunaan obat yang diresepkan1
5. Subscriptio, bagian ini berisi tanda tangan/paraf dokter penulis resep.

Untuk lebih jelasnya lihat gambar contoh resep diatas beserta dengan bagiannya.

Dalam menuliskan sebuah resep dokter juga harus mengikuri peraturan standar dalam menulis resep. Berikut atura-atran dalam penulisan resep.
1. Resep yang dituliskna harus dalam bahasa latin, kenapa bahasa latin ? karena baha latin tidak mengalami perubahan kata dalam perkembangannya.
2. Resep yang mengandung narkotika harus diberi pembeda, biasanya digaris bawah dengan tinta warna merah atau dieri tanda seru disamping nama obat, kemudian tidak boleh ada pengulangan resep/iterasi serta dalam aturan pemakainnya harus jelas.
3. Khusus untuk pasien yang obatnya harus diserahkan, disamping kanan/kanan atas resep diberi tanda/tulisan CITO/URGENT/PIM (periculum in mora) yang artinya berbahaya jika ditunda. Maksudnya adalah keselamatan pasien akan berbahaya bila tidak segera diberikan obat, sehingga biasanya resep didahulukan.
4. Tanda n.I (ne iteration) tidak boleh diuang harus dituliskan jika dokter tidak ingi resepnya diulang tanpa sepengetahuan dokternya.
5. Bila di dalam resep ada tanda p.p (pro pouper) maka artinya resep tersebut ditujukan untuk orang yang tidak mampu.

Didalam suatu resep khusunya untuk resep racikan ada 2 hal yang harus diketahui oleh seorang apoteker, yaitu :
1. Komponen obat utama/zat aktif ( remedium cardinale)
2. Komponen bahan tambahan ( remedium adjuvant)
Bahan tambahan disini ada beberapa jenis . corrigens actionis yaitu bahan tambahan yang digunakan untuk memperbaiki kerja dari obat utama/zat aktif. Corrigens saporis yaitu bahan tambahan yang digunakan untuk memperbaiki rasa dari obat. Corrigens odoris yaitu bahan tambahan yang digunakan untuk memperbaiki bau dari obat. Corrigens coloris yaitu bahan tambahan yang digunakan unttuk memperbaiki warna/penampilan obat dan terkahir yaitu remedium constituens yaitu bahan tambahan yang digunakan untuk memperbesar/mengisi volume dari obat.

Penyerahan Resep
Dalam penyerahan resep yang harus diperhatikan adalah kelengkapan dari resep itu sendiri. Penyerahan resep harus dilengkapi dengan aturan pemakaian yang sesuai dengan resep. Selain itu pemberian etiket yang sesuai juga hrus diperhatikan, misalnya warna putih untuk obat yang diminum dan warna biru untuk obat pemakaian luar. Khusus untuk sediaan suspensi dan beberpa sirup harus ditambahkan etiket/label “ KOCOK DAHULU”, hal ini bertujuan untuk menghomogenkan kembali larutan tersebut. Kemudian untuk obat bebas terbatas yang diberika tanpa resep harus diserahkan bersama dengan kemasannya dan untuk obat bebas diberikan sesuai dengan atuaran pemakaiannya.


Didalam resep bila dokter tersebut menginginkan untuk dilakukan pengulangan/iterasi dan ada obat yang belum ditebus pasien, maka saat pasien memeberikan resep aslinya apoteker harus memberikan salinan resep/copy resep untuk pasien dan ditulis keterangan jumlah pengulangan resep sesuai dengan resep aslinya dan atau menuliskan obat yang bekum ditebus oleh paseien di salinan resep. Salinan resep ini tidak berlaku untuk resep yang mengandung narkotik. 

RESEP : Pengenalan, Bagian dan Salinan Resep/Copyresep
Contoh Salinan Resep/Copyresep (slideshare)

Bagian-bagian salinan resep/copy resep hampir sama dengan resep aslinta yaitu berisi nama, alamat lengkap apotek, nama apoteker penanggung jawab dalam apotek tersebut berserta dengan nomer izin praktek kerja apoteker, kemudian tanggal penulisan resep aslinya, dibagian atas dituliskan salinan resep/copy resep, kemudian nama pasian dan nama dokter sesuai dengan resep aslinya, nama obat dan no resep dan paraf dan tanda cap apotek. Untuk lebih jelasnya lihat contoh gambar salinan resep diatas. 

Sekian semoga bermanfaat. 

9 Star Farmasi yang Wajid Diketahui (9 Stars of Pharmacist)

9 Stars of Pharmacist (Farmasetika)
9 Star Farmasi (9 Stars of Pharmacist) yang dulunya 7 Stars of Pharmacist merupakan istilah yang disebut oleh WHO yang menggambarkan peran dan fungsi seorang apoteker dalam melaksanakan tugasnya yaitu dalam pelayanan kesehatan terutama di bidang kefarmasian. Mari kita bahas satu per satu.

1.        Care Giver (Kepedulian)
9 Stars of Pharmacist
Care Giver (MotionAid)
Sesuai dengan PP No. 51 Tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian, disitu apoteker harus memiliki rasa kepedulian terhadap masyarakat secar luas. Sesuai dengan UU tersebut, rasa kepedulian apoteker dapat ditunjukkan dalam pemberian Pelayanan Informasi Obat (PIO), konseling, edukasi, monitoring, visite pasien dan yang lain-lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Baca Juga : Isi Sumpah Apoteker yang Wajib Dilaksanakan

2.       Decision-Maker (pembuat keputusan)
9 Stars of Pharmacist
Decision-Maker (TheOllinGroup)
Apoteker sesuai dengan keilmuan yang didapatkan, harus mampu membuat keputusan dalam hal pekerjaan kefarmasian. Misalnya dalam resep ada obat yang kosong, maka apoteker harus membuat keputusan untuk mengganti obat tersebut dengan komposisi yang sama atas persetujuan dokter/pasien. Kemudian dalam hal penyesuaian dosis, apoteker harus mampu membuat keputusan untuk menyesuaikan dosi resep tersebut dalam pertimbangan kalau tidak disesuaikan dosisnya akan melebih dosis maksimal. Dan lain-lain.

3.       Comunicator (Hubungan)
9 Stars of Pharmacist
Communicator (BudBilanich)

Apoteker wajib mampu untuk menjadikan dirinya komunikator/berkomunikasi yang baik dalam lingkungan kerjanya. Bukan hanya komunikator yang baik antara teman sejawat apoteker/instalasi, tetapi juga dengan instalasi atau tenaga kesehatan lainnya seperti dokter, perawat, bidan, ahli gizi dan lainnya. Sehingga pelayanan kefarmasian dimanapun lingkungan kerjanya dapat berjalan dengan baik. Untuk apoteke harus mampu menjadi komunikator yang baik, karena nantinya akan digunaakan dalam pelayanan kesehatan pariputna/akihir, misalnya dalam pelayanan informasi obat (PIO), konseling, konsultasi, visite dan tugas lainnya yang memerlukan komunikasi yang baik.

Baca Juga :Golongan dan Mekanisme Kerja Obat Antidiabetes

4.       Manager
9 Stars of Pharmacist
Manager (business-opportunities.biz

Apoteker harus mampun dalam aspek kefarmasian klinis. Tetapi apoteker juga harus mampu dalam aspek kefarmasian non klinis. Karena nantinya apoteker tidak hanya terjun ke dalam dunia kefarmasian klinis, tetapi juga non klinis. Misalnya apoteker dalam mengelola perbekalan farmasi dan alkes, kepala pbf, apoteker pengelola apotek, manager QA/QC dan lainnya.

5.        Leader/Pemimpin
9 Stars of Pharmacist
Leader (http://christianvisionalliance.org)
Apoteker juga harus mampu menjadi pemimpin. Pemimpin disini bukan berarti BOS, akan tetapi seorang pemimpin harus mampu memberikan perubahan/nuansa yang berbeda kepada lingkungan kerjanya. Semua orang bisa jadi pemimpin, tetapi tidak semua BOS bisa jadi pemimpin. Pemimpin disini juga harus memiliki visi dan misi yang jelas agar nantinya dapat memberikan kebijakan yang tepat tanpa ada yang merasa dirugikan.

Baca Juga : Golongan dan Mekanisme Kerja Obat Hipertensi

6.       Life-Long Learner (Belajar Sepanjang Masa)
9 Stars of Pharmacist
Life-Long Learner (https://www.economist.com)

Apoteker harus mau dan mampu untuk belajar sepanjang masa bahkan seumur hidup. Karena ilmu kefarmasian/kesehatan nantinya kan diperbaharui terus menerus. Dan kalau apoteker tidak mau belajar terus menerus, apoteker tersebut akan ketinggalan informasi/ridak update. Padahal dunia farmasi/kesehatan tiap tahunnya pasti ada perubahan dan perkembangan mengingat semakin maju teknologi.

7.        Teacher (Pengajar)
9 Stars of Pharmacist)
Teacher (http://www.alamy.com)
Apoteker harus mampu menjadi seoran pendidik maupun akademisi bagi pasien dan masyarakat yang membutuhkan maupun bagi tenaga kesehatan yang lainnya. Teacher disini tidak berarti harus menjadi guru/dosen. Yang terpenting teacher disini yaitu dapat memberikan informasi kepada penerima informasi sehingga yang diberikan informasi akan menjadi tahu dan lebih tahu.

8.       Research (Peneliti)
9 Stars of Pharmacist
Research (https://financialtribune.com)

Apoteker juga harus dituntut menjadi seorang peneliti dan mampu menganalisi masalah. Seiring berkembangnya zaman terutama teknologi, apoteker harus mau dan mampu menjadi seorang peneliti dalam mengembangkan obat-obatan. Selain itu apoteker juga harus mampu dalam menganalisi masalah, misalnya masalah kerasionalan obat dan lainya.

Baca Juga : Cara Menghitung Harga Jual Apotek

9.       Entrepreneur (pengusaha)
9 Stars of Pharmacist
Entrepreneur (http://techfilipino.com)

Apoteker harus mampu menjadi seorang pengusaha. Tidak semua apoteker nantinya akan bekerja di industri, instansi, rumah sakit, oleh karena itu apoteker harus dituntut mampu menjadi seorang pengusaha. Pengusaha bagi dirinya sendiri dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

Sekian dan terimakasih. Saran dan kritik sangat membantu

Semoga bermanfaat



Isi Sumpah Apoteker yang Wajib dilaksanakan

Isi Sumpah Apoteker yang Wajib dilaksanakan
Isi Sumpah Apoteker (jurnalsikaroh)

Sarjana farmasi adalah orang yang telah lulus di perguruan tinggi farmasi sedangkan apoteker adalah orang yang telah lulus sarjana farmasi kemudian melanjutkan studinya ke jenjang yang lebig tinggi yaitu profesi apoteker. Apoteker juga sudah mengucap sumpah janji jabatan apoteker.

Sumpah apoteker biasanya disaksikan oleh pengurus IAI dan pengurus Komite Farmasi Nasional.  Pada pelaksanaan sumpah apoteker ini merupakan situasi yang sakral, karena pada saat sumpah apoteker diucapkan, Tuhan Allah SWT juga mendengar sekaligus menjadi saksi apa yang di ucapkan dalam sumpah apoteker terserbut. Oleh karena itu sumpah apoteker hendaknya harus dihayati, dilaksanakan dengan sepenuh hati tanpa beban.
Langung saja, berikut ini adalah isi dari sumpah apoteker yang diucapkan pada saat pelantikan apoteker baru yang sedang lulus

Sumpah Apoteker

SAYA BERSUMPAH / BERJANJI AKAN MEMBAKTIKAN HIDUP SAYA GUNA KEPENTINGAN PERIKEMANUASIAAN TERUTAMA DALAM BIDANG KESEHATAN.
(pada intinya apoteker dalam hidupnya harus bersedia membaktikan untuk kepentingan masyarakat khusunya dibidang kesehatan tanpa membedakan siapa-siapa)

SAYA AKAN MERAHASIAKAN SEGALA SESUATU YANG SAYA KETAHUI KARENA PEKERJAAN SAYA DAN KEILMUAN SAYA SEBAGAI APOTEKER.

(pada intinya apoteker harus bisa merahasiakan segalam macam bentuk info apa saja yang didapatkan oleh orang, misal menjaga rahasia penyakit dari pasien )


SEKALIPUN DIANCAM, SAYA TIDAK AKAN MEMPERGUNAKAN PENGETAHUAN KEFARMASIAN SAYA UNTUK SESUATU YANG BERTENTANGAN DENGAN HUKUM PERIKEMANUSIAAN.

(pada intinya apoteker tidak boleh menggunakan ilmunya untuk kepentingan yang negatif dan bertentangan dengan hukum, misal apoteker mau merakit bom karena apoteker mengetahui bahannya)

SAYA AKAN MENJALANKAN TUGAS SAYA DENGAN SEBAIK - BAIKNYA SESUAI DENGAN MARTABAT DAN TRADISI LUHUR JABATAN KEFARMASIAN.

(pada intinya apoteker harus bertanggung jawab sesuai dengan keilmuannya dan tidak menggunakan keilmuannya untuk kepentingan lain yang bisa merugikan siapa saja)


DALAM MENUNAIKAN KEWAJIBAN SAYA, SAYA AKAN BERIKHTIAR DENGAN SUNGGUH - SUNGGUH SUPAYA TIDAK TERPENGARUH OLEH PERTIMBANGAN KEAGAMAAN, KEBANGSAAN, KESUKUAN, KEPARTAIAN, ATAU KEDUDUKAN SOSIAL.

(pada intinya dalam menjalalankan praktek kefarmasian tidak boleh terpengaruh oleh siapapun sesuai dengan hati nurani)


SAYA IKRAR SUMPAH / JANJI INI DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH DENGAN PENUH KEINSYAFAN


Demikian isi dari sumpah apoteker,semoga apoteker indonesia bisa menjalankan tugasnya sebaik-baiknya sesuai dengan sumpah yang diucapkan.

Terimakasih, salam apoteker

Golongan dan Mekanisme Kerja Obat Antidiabetes Yang Wajib Di Ketahui

Golongan dan Mekanisme Kerja Obat Antidiabetes Yang Wajib Di Ketahui
Golongan dan Mekanisme Kerja Obat Antidiabetes Yang Wajib Di Ketahui
Diabetes melitus merupakan penyakit degeneratif/keturunan yang paling besar ada di indonesia. Diabetes melitus merupakan penyakit dimana kadar gula darah diatas normal. Pengobatan diabetes melitus umumnya dilakukan dengan cara olahraga yang teratur, diet yang sesuai dan menggunakan obat oral diabetes (OAD) atau menggunakan suntikan insulin. Berbeda dengan penderita diabetes tipe 1 harus mutlak menggunakan suntikan insulin, sedangkan penderita diabetes tipe 2 biasanya kadar gula turun dengan diet dan menjaga olahraga, terkadang juga harus menggunakan obat oral diabetes atau suntikan insulin dan bahkan menggunakan kombinasi tersebut tergantung dengan keparahan penyakit.

Kali ini akan dijelaskan mengenai golongan, mekanisme dan contoh dari obat antidiabetes (OAD). Sejauh ini dikenala da kurang lebih 4 macam golongan obat antidiabetes. Mari kita bahas satu per satu.


Golongan pertama obat oral antidiabetes yaitu golongan sulfonilurea. Golongan sulfonilurea ini bekerja dengan cara merangsang organ pankreas agar memproduksi lebih banyak insulin. Sehingga insulin dapat bekerja dengan sebagaimana mestinya.  Golongan dari sulfonilurea ini diberikan kepada penderita diabetes dimana belum mengalami kerusakan pada pankreas dan penderita tidak mengalami obesitas. Golongan sulfonilurea hendaknya diminum sebelum atau menjelang tidur karena akan menyebabkan hipoglikemia. Contoh dari obat oral antidiabtes golongan sulfonilurea adalah                 klopropamid, glipizid, glimepirid dan yang terkenal dan sering didengara yaitu glibenklamid.


Selanjutnya golongan kedua obat oral antidiabetes yaitu golongan biguanid. Mekanisme kerja dari golongan biguanid adalah dengan cara meningkatkan kepekaan/sensitivitas dari sel-sel dalam organ tubuh dalam menerima glukosa yang dibawa oleh hormon insulin.  Golongan obat oral antidiabetes jenis bigunanid ini sangat cocok dikonsumsi oleh penderita diabetes melitus tipe 2 yang biasanya penderita diabetes melitus tipe 2 kebanyakana mengalami masalah obesitas.  Bagi penderita yang mengkonsumsi golongan ini biasanya akan mengalami gangguan pencernaan, oleh karena itu dalam penggunaannya harus dimulai dari dosis terendah dahulu dan seterusnya. Contoh dari obat oral antidiabtes golongan biguanid adalah metformin.


Selanjutnya golongan ketiga obat oral antidiabtes yaitu akarbose. Akarbose merupakan penghambat alfa glukosidase intestinal yang mekanisme kerjanya dengan cara memperlambat absorbsi dari karbohidrat dan sukrosa. Perlu diketahu bahwa karbohidrat merupakan komponen makanan yang mengandung gula, oleh karena itu penderita diabetes melitus disarankan untuk diet karbohidrat. Akarbose memiliki efek yang kecil tetapi memiliki efek yang bermakna dalam menurunkan kadar gula dalam darah. Akarbose ini bisa juga dijadikan terapi penunjang bila terapi menggunakan sulfonilurea dan biguanid tidak memadai.  Efek samping yang utama dari penggunaan akarbose ini adalah flatulensi dan efek ini dapat berkurang sendirinya dengan waktu.

Sekian dari S.Farm.apt

Semoga bermanfaat.

Mekanisme Kerja Obat Hipertensi Yang Wajib Di Ketahui

Mekanisme Kerja Obat Hipertensi Yang Wajib Di Ketahui
Tstatic

Hipertensi merupakan penyakit degeneratif. Penyakit ini juga merupakan faktor risiko keturunan, jadi kalau keluargamu ada yang mempunyai riwayat hipertensi maka anak atau keturunannya mempunyai faktor risiko terkena hipertensi.

Baik mari kita bahas lebih lanjut mengenai mekanisme kerja obat hipertensi. Sebelum kita bahas obat hipertensi dikenal memiliki 5 golongan yang dianggap sebagai obat lini pertama (first line terapi) dalam pengobatan yaitu golongan diuretik, β-blocker, ACE inhibitor, ARB dan atagonis kalsium (CCB).

Golongan obat hipertensi yang pertama yaitu diuretik. Mekanisme kerja dari golongan diuretik ini dengan cara mengurangi dan menghancurkan garam yang tersimpan dapam tubuh. Akibatnya terjadi pengurangan volume total darah dan curah jantung dan berakibat meningkatkan resistensi pembuluh darah periffer. Selain itu golongan diuretik ini menyebabkan ketika curah jantung normal, maka resistensi pembuluh darah perifer juga akan berkurang. Contoh dari golongan obat diuretik ini adalah HCT, furosemid, klorotiazid, bumetamid dan masih banyak lagi.

Golongan obat hipertensi yang kedua adalah β-Bloker. Mekanisme kerja dari golongan beta bloker ini yaitu dengan cara penurunan frekuensi denyut jantung yang mengakibatkan penurunan curah jantung dan penghambatan sekresi renin di ginjal yang mengakibatkan penurunan angiotensin II. Contoh antihipertensi dari golongan beta bloker adalah propanolol, atenolol, bisopropolol dan lain lain biasanya ada akhiran –ol.

Golongan obat hipertensi yang ketiga adalah ACE-I (Angiotensin Converting Enzym I). Golongan ACE-I memiliki fungsi utama yaitu untuk mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II. Mekanisme kerja dari golongan ACE-I ada 3 macam. Mekanisme kerja yang pertama yaitu dengan cara menurunkan resistensi vaskuler perifer. Kemudian mekanisme kerja yang kedua yaitu dengan cara menurunkan aktivitas simpatetik dan mekanisme kerja yang ketiga yaitu dengan cara mengurangi retensi garam Na dan air. Contoh antihipertensi dari golongan ACE-I adalah captopril, lisinopril, elanapril dan lain-lainnya yang biasanya berakhiran –ril.
Mekanisme Kerja Obat Hipertensi Yang Wajib Di Ketahui
Bidhuan
Golongan obat hipertensi yang keempat yaitu ARB (angiotensin Reseptor Blocker). Golongan antihipertensi ini bekerja dengan cara mencegah angiotensin II agar tidak berikatan dengan reseptornya. Reseptor yang dimaksud yaitu reseptor angiotensin II (AT II) yang berada di sekitar otot-otot pembuluh darah. Akibatnya pembuluh darah tersebut membesar yang berdampak pada penurunan tekanan darah. Contoh antihipertensi golongan ARB yaitu candesartan, valsartan, irbesartan dan lainnya yang biasanya bekakhiran –tan.

Golongan obat hipertensi yang kelima yaitu antagonis kalsium (CCB) Calcium Channel Blocker). Mekanisme kerja dari golongan antihipertensi CCB ini yaitu dengan cara menghambat influks pda otot polos miokard dan pembuluh darah. Penurunan resistensi pada otot perifer ini sering diikuti efek takikardia dan vasokonstriksi. Contoh antihipertensi dari golongan ini yaitu amlodipin, nifedipin dan yang lainnya yang biasanya berakhiran –pin.



Cara Menghitung Harga Jual Apotek/HNA Apotek

Cara Menghitung Harga Jual Apotek/HNA Apotek
Cara Menghitung Harga Jual APotek (HJA)/sukafarmasi
Berikut ini akan dijabarkan mengenai cara menghitung harga jual apotek atau HNA apotek. Dalam mengelola apotek harus pintar mengelola supaya omset apotek bisa tercapai. Salah satunya yaitu dengan menentukan harga jual apotek atau HNA apotek.

Baca Juga : 9 Stars of Pharmacist

Langsung saja, sebelum membahas cara menghitung harga jual apotek, mari kita bahas satu persatu hal yang trkait dengan harga jual apotek.

HNA (Harga Netto Apotek)
HNA adalah singkatan dari harga netto apotek, harga bersih dari suatu produk. HNA bisa diartikan sebagai harga (modal) awal suaru apotek yang didapatkan saat pembelian dari distributor atau yang lainnya. Bisa dari PBF atau langsung dari pabriknya.
Mark Up/Margin
Mark Up adalah persen keuntungan yang didapatkan dari menjual produk. Mark Up disini bisa disebut juga Margin. Margin/Mark Up tiap apotek berbeda-beda, ada yang menetapkan 25% atau 1,25 dan bahkan ada yang menetapkan 30% atau 1,3.
PPN 10%
PPN 10% adalah pajak pertambahan yang wajib dikeluarkan dan dibayarkan ke kantor pajak.  PPN dikenakan mulai dari proses transaksi dari produsen ke konsumen.

HJA (Harga Jual Apotek)
HJA adalah harga jual apotek, harga yang diberikan oleh pejual ke konsumen dan tentunya setelah diperhitungkan HNA< PPN 10% dan Margin/Mark Up.
Itu tadi merupakan hal yang terkait dengan menghitung harga jual apotek. Selanjutnya mari kita bahas tentan cara menghitung harga jual apotek.

Harga jual apotek (HJA) dapat ditentukan/dihitung dengan rumus sebagai berikut :
HJA = (HNA x PPN 10%x Margin/mark up)
Untuk contoh lebih jelasnya lihat gambar diatas.

Demikian mengenai cara menghitung harga jual apotek (HJA) yang dapat disampaikan.

Salam Apoteker


Back To Top